4 December 2013

TERAPI PEMBEKUAN LEMAK TAK BISA SEMBARANG ORANG

Pembekuan lemak perut (fat freezing tummy sculpting) sebetulnya bukanlah bentuk terapi baru. Terapi yang juga kerap disebut Zeltiq ini kembali menjadi tren, apalagi setelah Kate Middleton dikabarkan memilih terapi ini untuk mendapatkan bentuk tubuh ideal usai melahirkan. 

Meski terapi ini tidak hanya digemari wanita tapi juga pria, sayangnya hanya orang dengan kriteria tertentu yang bisa menjalani terapi ini.

"Terapi ini sesuai untuk mereka yang memiliki bentuk tubuh bagus, kebiasaan hidup sehat, dan rutin olahraga. Sayangnya, mereka mendapati pola distribusi lemak pada tubuh tidak sesuai keinginan," kata dokter kulit, Dr Debra Jaliman. 

Hal senada dikatakan dermatologist asal Boston, Jeffrey Dover. Menurutnya kandidat terbaik untuk terapi zeltiq adalah seseorang yang tidak mengalami kelebihan berat badan. Terapi ini lebih menyasar pasien yang memiliki lemak membandel di perut, pinggul, atau paha.

Hasil terapi terbaik diperoleh wanita yang rutin mengonsumsi makan bernutrisi dan olahraga selama hamil. Namun mereka memiliki sisa lemak akibat kehamilan, dan ingin mendapatkan tubuh kembali ideal pascabersalin.

26 November 2013

GIZI DAN NUTRISI YANG BAIK UNTUK ANAK

Setiap orangtua, termasuk Anda, tentu ingin sang buah hati tumbuh sehat dan cerdas, bukan? Nah, kecerdasan ternyata tidak terjadi dengan sendirinya melainkan terbentuk saat usia kanak-kanak.
"Sejak dalam rahim ibunya, kecerdasan janin sudah terbentuk," ungkap Guru Besar Gizi dari Departemen Ilmud an Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Made Astawan.
Ya, sekitar 80 persen otak terbentuk saat ibu mengandung calon jabang bayi. Proses pembentukan otak janin tentunya membutuhan asupan gizi yang baik.
"Gizi yang baik ketika hamil menentukan berat badan bayi yang cukup dan baik saat lahir. Sebaliknya, bila berat badan bayi kurang akan memengaruhi kekebalan tubuh, mudah sakit, dan berefek pada kecerdasannya. Riset membuktikan, anak yang kurang gizi saat bayi cenderung mudah mengalami penyakit degeneratif kelak saat dewasa seperti obesitas, sakit jantung, dan stroke,” papar Astawan.   
Kecerdasan, lanjut Astawan, ditentukan oleh beberapa faktor. Di antaranya faktor genetik dari kedua orangtua, faktor epigenetik berupa pengaruh lingkungan dan stimulasi dari orangtua serta orang di sekitarnya, dan faktor asupan gizi yang baik. Dengan asupan gizi yang baik, kata Astawan, akan terbentuk 100 miliar sel neuron pada otak anak.

AJAK ANAK SANTAP MAKANAN SEHAT

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 menunjukkan, prevalensi gizi kurang dan gizi buruk balita di Indonesia masih cukup tinggi yaitu sebesar 17,9 persen sedangkan yang tergolong pendek sebesar 35,6 persen. Selain itu, sebanyak 14,2 persen balita dengan berat badan lebih. Angka ini tentu memprihatinkan.
“Jika tidak teratasi kita akan menghadapi generasi dengan masalah gizi dalam kurun waktu 20 – 25 tahun mendatang," tegas Guru Besar Ilmu Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Made Astawan.
Seperti kita tahu, gizi buruk dapat menimbulkan risiko mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. Kondisi malnutrisi dapat menyebabkan beragam penyakit seperti obesitas atau penyakit regeneratif yang timbul karena menurunnya fungsi-fungsi organ tubuh. Karena itulah, pengetahuan, pemahaman bahkan kepedulian akan gizi perlu ditingkatkan.
“Hal yang sangat berperan adalah faktor ekonomi dan pendidikan gizi. Tak sedikit masyarakat yang berkecukupan secara finansial akan tetapi tingkat pengetahuan gizi rendah, sehingga yang terjadi anak mengalami obesitas, begitupun masyarakat yang memang kurang secara finansial sehingga gizinya pun kurang,” papar Prof. Astawan.